Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2019

Tentang Isu Kapan Menikah yang Menyebalkan Itu



Dalam beberapa waktu terakhir, rasa mual memuncak tatkala saya mengontak seorang teman lama yang kebetulan pernah satu kantor. Sebut saja teman saya ini Juki. Juki merupakan seorang pria yang memutuskan untuk menikah muda. Seingat saya, Juki menikah saat umurnya baru 23 tahun. Ia mendapatkan istri yang tiga tahun lebih muda darinya. Sebenarnya, Juki mengundang saya untuk datang ke resepsi pernikahannya. Namun karena satu dan lain hal, saya berhalangan datang. 

Satu tahun, kurang lebih, saya tidak kontak dengan Juki, saya coba membuka pembicaraan. Awalnya menyenangkan. Kita bertukar kabar, aib-aib baru, ghibah mantan bos dan lainnya. Namun semakin lama saya muak dengan obrolan kami karena Juki tiba-tiba menanyakan kapan saya menikah dan segera menyusulnya. Jika anda-anda menganggap pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan standar, basa-basi dan mungkin memotivasi orang yang belum menikah, anda perlu memasukan pemikiran anda ke kulkas secepatnya. Sungguh. 

Selain Juki, baru-baru ini Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga menganjurkan usia menikah yang ideal adalah 21-25 tahun. Mereka beranggapan pasangan dengan rentang usia tersebut sudah memiliki kesiapan yang matang dari fisik, psikologis untuk menghadapi kehamilan, melahirkan sampai membesarkan anak. Menyebalkan bukan?

Oi mate, pernikahan tidak semudah anda sudah memiliki pasangan yang didamba, mengumpulkan uang serta nyali untuk bertemu calon mertua. Ada beberapa faktor menyebalkan yang membuat saya pribadi dan beberapa rekan dekat, enggan untuk menikah dini. Ada berbagai agenda yang belum selesai. Seperti traveling, mengumpulkan sepatu, makan enak dan lain sebagainya Jadi, buat apa menikah cepat-cepat saat target belum rampung direalisasikan? Jika menikah hanya untuk mencari teman hidup, saya cukup yakin anda yang menikah muda tak punya teman-teman yang menyenangkan untuk sekedar berbagi. 

Jika anda menganggap menikah adalah ibadah, benar memang. Namun, bukankah ada ibadah-ibadah lain terbaik yang bisa dirampungkan lebih dulu dan diperbaiki kualitasnya misalnya shalat tepat waktu, pergi ke gereja, wihara, pura dan lain sebagainya. Higga turut aktif menyumbangkan sebagian harta di jalan tuhan. Selain itu masih banyak lagi hal lainnya bukan selain menikah? Apakah anda-anda sudah merampungkan dan menyempurnakan ibadah-ibadah tersebut?

Dan, yang terparah, jika anda berpikir menikah muda hanya untuk mengejar kepuasan batiniah, anda sudah pasti tak tahu cara untuk bersenang-senang dengan mudah, praktis, tak merepotkan serta tidak mengikat. Amat disayangkan sekali, komunikasi anda terhadap lawan jenis bisa dipastikan cukup buruk.

Lagipula, seandainya menikah muda memang seindah yang dibayangkan, mengapa masih banyak mamah muda berkeliaran di setiap tempat dan feed-feed sosial media lainnya?

Sabtu, 30 Juni 2018

Ronaldo yang Sedikit Lebih Berguna Dibandingkan Messi


Setelah cukup lama tak berkutat dalam dunia tulis menulis karena satu dan lain hal, saya tertarik untuk menulis lagi guna melatih sendi kata yang kian pudar oleh matematika sederhana yang kini menjadi keseharian demi mengangkat harkat dan martabat seorang pria.

Ya, saya tertarik untuk menuliskan sepakbola, dimana Messi dan Ronaldo menjadi dua sosok yang menarik untuk didedah lebih lanjut. Membicarakan Messi atau Ronaldo memang tak ada habisnya. Namun percayalah, mengkomparasikan mereka berdua merupakan hal yang mengasyikan. Dan, topik yang paling hip untuk dibahas adalah membahas kiprah keduanya yang kebetulan sama-sama bermain guna membela bangsa di Piala Dunia 2018.


Messi, sebagaimana kita tahu merupakan mitos dalam sepakbola, terkhusus Barcelona. Tak terhitung sudah berbagai gelar direngkuh baik secara kolektif maupun personal. Tak ada yang perlu meragukan kehebatan Messi di klub Katalan tersebut. Namun untuk Argentina, Messi adalah banter yang siap digulirkan kapan saja.

Untuk negaranya, tak ada sesuatu yang bisa dipersembahkan Messi. Tak percaya? Gubrik saja Google dan kawan-kawannya guna memudahkan anda mencari prestasi La Pulga bersama Argentina. Hasilnya sudah pasti nol besar. Messi benar-benar tak berguna untuk Argentina. Siapapun pemain dan pelatih yang mendampinginya, bagaimanapun skema yang diterapkan La Albiceleste, siapapun pelatihnya, selama tak ada Xavi atau Iniesta, Messi akan menjadi bercandaan yang tak ada habisnya.

Bercandaan tersebut pun kembali tersaji, yang paling anyar, Argentina berhasil dibungkus pulang oleh Prancis di laga yang berlangsung ketat Sabtu (30/6) tadi. Artinya kans si pemilik nomor 10 ini membawa negaranya berprestasi di tahun genap ini tertutup sudah.

Sementara sang "rival" dari semenanjung Iberia sana juga meraih berbagai prestasi yang tak kalah apik dengan Messi. Bahkan Ronaldo berhasil meraih gelar prestis baik secara tim maupun pribadi bersama United dan Real Madrid. Sesuatu yang mungkin saja tak bisa diraih Messi apabila ia hengkang dari Barcelona. Dari level klub, kita dapat melihat Ronaldo sudah unggul dari kompetitornya tersebut.

Bahkan untuk negaranya sendiri, Ronaldo berhasil menorehkan prestasi yang cukup baik dengan membawa Portugal meraih Euro 2016 lalu. Disini Ronaldo jelas sudah unggul 2-0 dari Messi. Spesialnya, CR7 tak membutuhkan patner khusus layaknya sang rival untuk mendongkrak level permainan di level tim nasional. Bahkan jika kita tak lupa, Ronaldo juga sempat menjadi pelatih dadakan kala Portugal mengandaskan perlawanan Prancis di Final Euro dua tahun lalu. Ibarat pertandingan Wwe, Ronaldo adalah Brock Lesnar yang sudah memberikan tiga kali suplex City kepada Messi. Ngehe memang. Namun begitulah kenyataannya.

Meski Portugal bernasib sama seperti Argentina yang gugur pada babak 16 besar di Piala Dunia semalam, Ronaldo masih berhak untuk pongah karena sudah beberapa langkah lebih maju dari Messi.

Dari sini kita bisa tahu, Ronaldo sedikit lebih berguna untuk negaranya ketimbang Messi.

Dari sini pula, seharusnya kita bisa menilai siapa yang terbaik bukan?

Ah sudahlah, debat kusir ini harus dihentikan. Intinya The Libertines bakal main di Jakarta pada September nanti dan saya harus siapkan uang dan menghapalkan lagu dari ketiga album mereka guna bisa sing along di konser mereka nanti. Semoga tidak mengecewakan.


Minggu, 03 April 2016

Repetoar Silampukau - Bermain di Cikini



30 & 31 Maret 2016
Teater Kecil

Taman Ismail Marzuki
Jakarta
Foto oleh: Yose Riandy


Repetoar
Pasca mengenal Silampukau pertengahan Februari lalu, rasa cinta muncul begitu saja. Cinta memang tak mengenal alasan apapun. Sejak saat itu, hampir setiap hari saya selalu mendengarkan album “Dosa, Kota dan Kenangan” milik duo kota Pahlawan ini melalui perangkat mp3 hasil unduhan gelap. Cita rasa musik folk yang dibalut dengan lirik bedasarkan perspektif personal tentang kehidupan kota Surabaya menjadi bumbu yang cukup sedap untuk diperdengarkan. Sebenarnya, apa yang disampaikan Silampukau tentang balada perkotaan bukan hal baru, Bangkutaman pernah menyampaikan hal mengenai yang sama mengenai kehidupan Jakarta pada album Ode Buat Kota beberapa tahun lalu. Yang membedakan dua moniker tersebut hanyalah pemilihan tema dan tempat, kehidupan di Jakarta dan Surabaya.
Mengunduh mp3, apalagi yang diunduh adalah musisi independen adalah dosa besar. Sebenarnya saya ingin memiliki cakram padat Silampukau. Namun apa daya, uang saku terlanjur habis untuk kepentingan kuliah dan melamar pekerjaan. Menurut seorang teman, mengapresiasi musik tidak melulu harus membeli rilisannya. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghargai apa yang dihasilkan. Untuk itu, satu-satunya cara agar menebus dosa saya adalah menonton pertunjukan live mereka. Semoga dosa ini terampuni, Gusti.
Kebetulan, pertengahan Maret lalu, Silampukau akan singgah di Jakarta. Mereka akan mentas di Music Gallery seri keenam. Namun harga tiket membuat saya ciut. Hal ini karena ada dua band luar, Panama dan Last Dinosaur tampil disana. Namun setelah mencari tahu seluk beluk kedua band tersebut, saya membatalkan menonton. Ketidaktahuan musik yang disuguhkan oleh para penampil serta tidak selera terhadap musik dua grup musik asing tersebut menjadi alasan sahih. Adalah bunuh diri yang tak artistik jika saya memaksakan hadir demi alasan eksistensi hadir di skena independen.
Kabar baik kembali tiba, Eki dan Kharis kembali akan hadir di Jakarta di penghujung Maret. Akhir bulan adalah hal terindah bagi siapapun, termasuk saya. Isi dompet lak lagi harus nelangsa. Berhubung waktunya tepat, saya mengajak dua orang teman untuk menonton pertunjukan musik Silampukau. Duo kepondang ini singgah kembali ke Ibukota dengan konser tunggal, “Bermain di Cikini.” Tiket dibandrol dengan harga seratus ribu per orang untuk satu hari pertunjukan.
“Anjir mahal juga yak tiketnya, itu (pas nonton) dapet apaan aja?” Tutur seorang teman kepada saya. Pertanyaan ini membuat saya harus garuk-garuk kepala untuk menjawabnya. Pasalnya beberapa waktu lalu, ia hadir ke peluncuran album band Rock and Roll asal Jakarta dengan tiket “hanya” setengah harga dari harga yang ditetapkan penyelenggara “Silampukau - Bermain di Cikini.” Ia mendapatkan satu keping kaset tape beserta bir dingin. Hal ini tentu saja menjadi standar acuan menonton musik baginya. Jika seratus ribu tak mendapat apa-apa, ia tentu akan kecewa berat. Namun saya berhasil meyakinkannya untuk datang menonton.
Harga tiket seratus ribu untuk pertunjukan musik folk lokal adalah sebuah keniscayaan. Folk, sebagaimana digariskan adalah musik yang ditunjukan kepada kaum kelas menengah kebawah. Musik ini awalnya adalah komposisi yang diciptakan untuk mengusir kebosanan saat berutinitas. Namun pasca Stivell dan Dylan, semua berubah. Folk menemukan sisi komerisilnya melalui lirik perlawanan, protes dan aspek sosial sebagai nilai jual utamanya. Selain itu beberapa faktor yang menyebabkan harga tiket menjadi cukup “wah” bagi kalangan marjinal seperti saya adalah para hipster dan mahalnya sewa gedung di Jakarta.
 Hipster, sebagaimana digambarkan secara umum adalah orang yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kebanyakan orang, atau lebih gampangnya disebut anti-mainsterm. Ya, Silampukau sendiri merupakan moniker yang bisa dibilang berbeda. Jika kebanyakan kelompok folk lokal masa kini memilih tema tentang hujan, sore hari, dan hangatnya senja. Mereka membawakan hal yang agak berbeda, yakni tentang kehidupan sosial di kota metropolitan. Selain itu, profil mereka juga terbilang lumayan tinggi. Rolling Stone Indonesia meletakan “Dosa, Kota dan Kenangan”  di posisi ketiga sebagai album Indonesia terbaik di tahun 2015, tepat dibawah “Teriakan Bocah” milik Kelompok Penerbang Roket (KPR) dan “Taifun” Barasuara. Maka, jika menonton pertunjukan Barasuara/KPR terlalu mainsterm, Silampukau adalah anti-tesis dari kedua band tersebut. Karena hipster sendiri merasa cenderung bersifat underdog. Ha.
Atas dasar underdog dan kepopuleran duo asal Surabaya ini (mungkin, sekali lagi, mungkin) membuat penyelanggara melaksanakan “Silampukau - Konser di Cikini” selama dua hari. Terlebih lagi, seluruh tiket yang berjumlah sekitar 400 lembar yang dipersiapkan untuk pertunjukan dua hari tersebut sold out. Hal ini merupakan pencapaian yang cukup spektakuler untuk sebuah konser tunggal musisi sidesterm yang tengah menanjak namanya.
Selain itu faktor hipster, mahalnya pertunjukan Silampukau bisa jadi didasari pemilihan venue acara. Sudah bukan rahasia umum jika mencari tempat pertunjukan musik yang memupuni di Jakarta merupakan barang langka. Jikapun ada, harga yang ditawarkan bisa dibilang lumayan. Seorang teman pernah berujar kepada saya, salah satu klien di kantornya kesulitan untuk mencari venue untuk menggelar sebuah event di Jakarta. Untuk mengakomodir kelancaran pertunjukan, sebuah gedung teater kelas premium di Cikini menjadi gelaran perdana Eki, Kharis dan kawan-kawan untuk konser tunggal perdananya di Jakarta. Hal ini juga bisa dijadikan alasan mengapa harga tiket duo kepondang ini menjadi cukup lumayan bagi pengangguran seperti saya. Ya sudahlah. Setidaknya portofolio menonton gelaran musik di tempat bagus saya bertambah ke arah yang lebih baik.
***
Saya bersama dua orang teman memilih untuk menonton di hari kedua. Tak ada alasan khusus untuk itu. Menuliskan permainan Silampukau di atas panggung adalah buang-buang waktu. Mereka tampil tanpa saat mengeksekusi setiap materi yang dibawakan. Saya hanya ingin membahas bagaimana keadaaan konser di lokasi.
Teater Kecil dipenuhi oleh riuh rendah manusia. Bisa dikatakan yang hadir disana merupakan golongan kelas menengah ke atas. Hampir semua orang nampak modis dengan busana semi premium. Mungkin hanya saya dan kedua teman yang kurang enak dipandang. Dari sisi manapun, kami kalah telak. Cara berpakaian, good looking, bau badan, segalanya. Untung saja harga tiket setara satu dengan yang lainnya. Jika tidak, bisa dipastikan kami selesai.
Keterlambatan seorang teman juga memaksa kami untuk duduk di balkon. Leher terasa sakit jika terus melihat pertunjukan yang letaknya di bawah. Penderitaan belum berakhir disitu, beberapa perempuan di kursi belakang memutuskan pindah ke depan untuk melihat lebih jelas penampilan di bawah. Dengan angkuhnya mereka menghalangi pandangan saya dan rekan-rekan. Wajah dan tubuh mereka menghalangi surga yang di depan mata. “(Bayar) cepe cuma buat liat komuk orang doang nih? Mana kaga dapet ape-ape !!!.” Gerutu seorang teman.
Setelah beberapa lagu, Silampukau memutuskan untuk memberi jeda. Para penonton berhamburan keluar Teater. Sesi merokok dan minum digelar tanpa dikomando. Si penghalang kami tadi juga melakukan hal yang sama. Saya dan seorag teman duduk di pelataran. Kami berbincang singkat sambil menghembuskan rokok, “Folk main di tempat kayak gini aneh ye.” Tuturnya kepada saya. Obrolan berlanjut dengan santainya. Seorang wanita di sebalah saya bicara kepada temannya, “Dari tadi gua ngga ngerti mereka (Silampukau) main apaan.”

Jumat, 18 Desember 2015

Alasan seseorang menyukai Manchester City.


Oooooo City we love you !!!


Klub sepakbola dan fans adalah bagian tak terpisahkan. Mereka bak madu dan racun, suami dan istri, pacar dan selingkuhan, ya, seperti itu. Terlalu banyak nama yang harus dijabarkan jika kita harus menyebutkan fans klub sepakbola di seluruh dunia. semua orang punya tim favoritnya masing-masing. Alasan seseorang mendukung tim sepakbola juga beragam. Karena ada tiga hal yang paling banyak di dunia ini; Pasir di pantai, air di lautan serta alasan seseorang.  
Bicara  mengenai fans sepakbola -khususnya di Indonesia- ada dua jenis fans yang bisa digolongkan secara umum. Fans tim lokal dan fans tim luar. Untuk tim lokal, kita bisa dengan mudah mendeskripsikan fans jenis ini. Misalnya, Sukri tinggal di Jakarta dan suka sepakbola Indonesia, sudah pasti Sukri akan diberikan pilihan mau mendukung Persija atau Persitara. Hal ini lumrah terjadi karena Sukri memiliki kedekatan geogrfis dengan kedua tim tadi. Namun Sukri juga memiliki opsi lain dengan tidak mendukung kedua tim yang dijabarkan diatas. Bisa saja Sukri mendukung Persipura. Semua sah-sah saja, terserah Sukri.
Bagaimana untuk fans tim luar? Terlalu banyak alasan yang berbelit-belit dan kadang tak masuk akal untuk mendukung tim luar negeri. Kita tak punya kedekatan geografis seperti halnya contoh kasus Sukri tadi. Anda yang sudah menonton Green Streen Hooligan bahkan mendalaminya lebih jauh. pasti akan menyukai West Ham United ataupun Milwall. Apapun alasan anda menyukai West Ham atau Millwall selain dari menonton Green Street (dan Paolo di Canio, untuk West Ham), argumen anda tidak akan valid. Anda yang mengagumi Gianfranco Zola sudah pasti suka Chelsea. Anda yang menonton film triologi Goal dengan Santiago Munez-nya, sudah pasti ada hasrat untuk segera menjadi Geordies dan mendukung Newcastle United. Terakhir, jika anda adalah tipikal orang yang senang bernostalgia mengenai manisnya masa lalu, Merseyside merah adalah destinasi yang tepat untuk anda dukung. banyak lagi alasan-alasan lain diluar hal-hal yang sudah dijabarkan di atas.
Dengan pemaparan tersebut, saya akan coba menafsirkan mengapa seseorang menyukai Manchester City, yang notabene merupakan tim luar. Untuk yang satu ini, ada beberapa tafsiran yang bisa membuat sentimen anda, para the Cityzen, semakin tinggi kepada saya. Saya cukup resah bila seseorang dengan pongahnya menepuk dada dan seraya melontarkan “saya fans Manchester City.”  Berikut adalah beberapa alasan yang membuat seseorang menjadi fans MCFC:
1.      Oasis
Ini adalah hal terabsurd yang pernah mampir ke pikiran saya. Silogismenya mungkin seperti ini, “Jika saya fans Oasis, maka saya juga fans Manchester City.”  Kita semua tahu bahwa Gallagher bersaudara adalah fans City jauh sebelum tim ini ditemukan orang Thailand dan Arab. kita juga tahu bagaimana kebencian mereka terhadap United. Tak yang terhitung pula bagaimana mereka mempromosikan tim medioker ini dengan meneriakan “oh manchester” di sela pertunjukannya. Atau bagaimana Liam maupun Noel dengan anggunnya bahu membahu memakai jersey City dalam pentas bersama Oasis ataupun sesi foto untuk majalah atau juga dokumentasi pribadi. Atau bagaimana Oasis menyelesaikan konser megahnya pada 1996 di Maine Road. Semua hal ini  mereka lakukan agar orang yang suka Oasis turut berpartisipasi mendukung City. Maka yang terjadi kemudian adalah anda yang suka Oasis kemudian menjadi fans Manchester City adalah korban promosi masif yang dilakukan Gallagher Bersaudara selama beberapa tahun terakhir. Anda terjebak dalam kesadaran dan realitas yang mereka ciptakan. Benar kan?
Oh iya satu lagi, Jika mengulang silogisme absolut “Saya fans Oasis, maka saya juga fans Manchester City.” Maka saya boleh saja menulis begini, “Saya suka Stone Roses/Blur, maka saya juga suka United/Chelsea.” Lantas, jika Saya suka Stone Roses namun saya suka Manchester City, Anda mau apa? Anda belum tahu Stone Roses? Anda kurang piknik.
2.      Klub Kaya Baru
Tidak perlu merasa sungkan untuk hal satu ini. Dalam sepakbola, apapun bisa diraih dengan sekejap jika modal awal membangun kesuksesan adalah uang. Kita sudah cukup tahu bagaimana manisnya perjalanan Chelsea menuju satu dari tim terbaik di inggirs. Sokongan dana tanpa batas dari Roman Abramovic membuat Chelsea yang awalnya menjadi sampah kota London bertransformasi menjadi klub sepakbola yang menawarkan gaji besar kepada setiap bintang yang hendak singgah. Dengan uang, Chelsea bisa merasakan kembali juara liga yang hampir setengah dekade hilang dari radar, piala FA, Capital One Cup, piring cantik bernama Community Shield bahkan si kuping besar Liga Champions juga sudah mampir ke lemari piala di Stanford Bridge. Hal inilah yang membuat para investor kaya mau menyuntikan dananya untuk membangun klub sepakbola menjadi kekuatan baru di liganya masing-masig. Pasca Chelsea, Manchester City kebagian jatah untuk menjadi sesuatu. City sudah dua kali diakusisi oleh pengusaha dataran Asia. yang pertama bisa dibilang kurang sukses. Di era Thaksin, City dikenal sebagai spesialis penggedor bursa transfer namun masih nihil prestasi. Pada akusisi kedua, City mampu merajai Inggris raya selama beberapa musim terakhir. Semua gelar prestis di ranah ratu elizabeth sudah mampir ke lemari piala di Etihad. Untuk liga champions? Ah lupakan saja. Saya malas membicarakannya. Mungkin suatu hari City akan meraihnya. Silahkan tunggu sendiri. hal ini juga yang pastinya membuat anda senang mendukung Manchester City. Karena city adalah kekuatan baru, karena City adalah anti-tesis Manchester United, ah tapi kedua argumen itu patah oleh argumen ketiga, karena City adalah tim kaya baru yang siap membuat anda berdebar saat bursa transfer dibuka, dan sibuk berdebat mengenai relevan atau tidaknya seorang bintang yang tengah bersinar mendarat di City of Manchester.
3.      Pemain Bintang
Siapa yang tidak suka saat pemain bintang merapat ke klub idolanya? Jika ada yang berkata “tidak” mereka adalah fans yang mencintai klub tanpa peduli siapa pemain yang keluar masuk. Namun jarang sekali ada orang macam ini di ranah sepakbola modern. Hampir setiap tim di seluruh dunia memiliki satu pemain yang overrated dari pemain lainnya. Namun, bagaimana jika hampir seluruh posisi di starting Line up diisi oleh pemain berlabel bintang? Chelsea, Real Madrid, United dan Barcelona sudah melakukannya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mendukung tim yang penuh bintang bukan? Karena prestasi yang akan didatangkan hanya tinggal menunggu waktu. Tunggu apalagi? Segeralah dukung Manchester City yang penuh bintang itu. dan mulailah berekspektasi bermacam-macam tentang kesuksesan yang akan mereka raih dikemudian hari. Mendukung City akan menjadi investasi menarik bagi anda untuk debat kusir bersama football snob lainnya.
4.      Playstation
Jika anda playstation freak yang menyukai game bergenre sepakbola seperti PES dan FIFA, anda akan sangat senang dengan tipikal pemain yang memiliki kecepatan di segala lini, akurasi tembakan yang baik, serta pertahanan yang memupuni. Manchester City punya segala hal yang ditawarkan di atas. Anda bisa memenangkan pertarungan dengan teman anda di Playstation dengan menggunakan Manchester City. Dan anda juga bisa mendukung klub asal Manchester tersebut via Playstation sesegera mungkin. Bahkan anda juga bisa membawa City mewujudkan angan-angan anda seperti mendatangkan Messi, Ronaldo, Bale, John Stones, Ryan Marhez atau James Vardy dan –bahkan- Liga Champions via Master League. Tak usah perdulikan status pemain home ground, karena Master League di PES atau Be A Manager di FIFA tak mengenal hal tersebut. Segera mainkan gamenya sampai mata anda mengalami trip yang panjang.
5.      Pemain Tampan
Dengan dana yang tak terbatas pasca take over dari pengusaha timur tengah, Manchester City bisa mendatangkan pemain bintang sekaligus mempunyai branding kuat bagi tim maupun bagi fansnya. Kita bisa lihat pesepakbola yang mungkin cocok bermain dalam serial Hollywood daripada bermain bersama Manchester City. Ada beberapa pemain (baik yang masih maupun telah hengkang dari the Eastlands) yang memiliki wajah rupawan. Sebut saja Sergio Aguero, David Silva, Adam Johnson, Matija Nastasic, Edin Dzeko, Samir Nasri, Joey Barton (untuk satu ini, saya masih agak menyangsikan ketampanannya), Adam Johnson, Kevin de Bruyne, Wayne Bridge, Vedran Corluka dan tentu saja Joseph Hart. Hal ini mungkin membuat anda -para wanita- menyukai sebuah tim yang berisikan pemain rupawan. Tanya saja fans Chelsea, para fans perempuannya senang menjurus orgasme kecil saat melihat wajah Oscar, Hazzard dan lain sebagainya. Perempuan selalu histeris melihat ketampanan dan maskulinitas pesepakbola. Bahkan seorang DJ perempuan yang cukup terkenal di Indonesia mengaku menyukai Manchester City karena ada sosok Joseph Hart di dalamnya. Ini yang mungkin membuat pertimbangan besar mengapa banyak perempuan menyukai sepakbola (walaupun saya yakin masih ada perempuan di luar sana yang benar-benar tulus mencintai sepakbola tanpa melihat aspek ketampanan yang pemain). Jika tidak percaya, silahkan survei sendiri persentase perempuan penyuka manchester City yang membuat namesheet dari nama yang saya sebutkan di atas ketimbang membubuhkan nama dan nomor punggung atas nama Yaya Toure, Vincent Kompany atau bahkan Jolien Lescott.