Rabu, 15 April 2015

Pasca Derby Manchester: Kesenangan, Oasis dan Pertarungan Anak SD

Hay Setan, Hay Burung
Jika anda adalah seorang pemadat sepakbola, ada beberapa hal yang menyenangkan untuk dilihat dari sepakbola itu sendiri. anda yang glory hunter tentu akan senang jika melihat tm yang anda dukung meraih banyak piala dengan waktu singkat. Anda yang gemar menganalisis tentu akan sangat senang jika mendapatkan bahan analisis melalui medium sepakbola dengan menyelipkan beberapa perspektif serta tori-teori sosial untuk memperkuat analisis sepakbola anda – terkadang, tulisan sepakbola biasanya hanya dituliskan secara receh di media massa- Anda yang seorang kolektor tentu akan bahagia memiliki memorabilia dari ranah sepakola seperti jersey, pernak-pernik klub kesayangan, bahkan rumput stadion akan menjadi koleksi yang tak ternilai harganya jika dibandingkan dengan batu akik yang sedang happening belakangan ini. hal-hal tersebut akan menyenangkan bagi anda secara pribadi.

Bagi saya, tak ada yang lebih menyenangkan daripada menyaksikan sebuah laga derby dalam sepakbola. derby, sebagaimana dituliskan oleh yang maha tahu, wikipedia, adalah sebuah pertandingan tim yang memiliki rivalitas sengit antar kedua tim. Biasanya derby bisa berskala lokal, nasional maupun internasional. Ada banyak partai derby yang populer. Misalnya derby della capitale yang mempertemukan Lazio – Roma. Della Madonnina (Inter-Milan) Der Klassiker (Ajax – Feyenoord) Old Firm (Celtic – Rangers) El Classico (Madrid – Barca) Northside (United – Liverpool) hingga sebuah laga yan harus disaksikan sebelum anda meninggalkan dunia fana ini, Derby Super Classic, yang mempertemukan Boca Juniors dan River Plate. Pertarungaan Super Classic sendiri diidentikan dengan pertarungan entis Italia (Boca) dan Spanyol (River), serta pertaruhan kelas sosial. Ngeri.

Dari sekian banyak derby yang sudah disebutkan di atas, ada sebuah derby yang menarik perhatian saya, setidaknya sampai hari ini. pertandingan antara Manchester United melawan Manchester City. Derby ini tadinya bukan apa-apa pada masa lampau. Dulu, United terlalu superior untuk City. Setan merah bahkan selalu direpresentasikan sebagai tim terbaik di Britania Raya (bahkan dunia). Hal ini bisa dilihat dari banyaknya gelar yang menghiasi ruang piala di Old Trafford serta banyaknya bintang-bintang dunia yang merumput disana sebut saja Erick Cantona, Jaap Stam, Peter Smicheels, Andy Cole, Dwright Yorke dan generasi emas Class of 92. Jangan lupakan juga sosok tua bangka yang handal meracik strategi dan membuat United selalu lapar gelar, Alex Champman Ferguson.

Sementara City selalu tengelam dalam bayang-bayang itu. Tak ada yang bisa dibanggakan dari tim ini. prestasi nihil, kerap turun naik antar divisi seperti yoyo. Sungguh tidak mengenakan untuk dibicarakan di warung kopi bersama teman-teman. Satu-satunya hal yang membuat nama City menjadi “agak” terkenal ialah berkat Gallagher bersaudara dari kelompok musik Oasis. Secara kebetulan, Oasis sendiri merupakan salah satu band yang cukup digandrungi pada medio pertengahan tahun 90 hingga awal milenium. Jika tak percaya, anda bisa mengecek penjualan album mereka sepanjang rentang tahun tersebut. Berkat sorotan yang cukup banyak dari media massa pada saat itu, Oasis - dalam hal ini Noel dan Liam- mencoba memperkenalkan klub kesayangannya kepada para penggemarnya, melalui berbagai cara.

Pada beberapa kesempatan, mereka kerap kali mengenakan kostum the sky blues, baik dalam aksi pangung maupun sesi foto. Bahkan di sebuah konser bertajuk Familiar to Millions pada tahun 2000an, Liam Gallagher meneriakan “Oh Manchester” kepada ribuan pasang mata di Wembley. Teriakan tersebut disambut oleh sebagian orang yang memakai jersey City disana. Padahal, saat konser itu diselenggarakan. Manchester City tak ubahnya tim medioker yang tengah mencari stabilitas posisi di papan klasmen. Namun Liam nampak tak peduli dengan apa yang terjadi dengan the Eastland saat itu.

Adalah ketekunan dan popularitas Gallagher bersaudara mempromosikan Manchester Biru pada setiap kesempatan yang akhirnya membuat sebagian fans Oasis rela “dibabtis” sebagai fans City. Walaupun jumlahnya tak terlalu signifikan, minimal Gallagher bersaudara telah memberikan sesuatu yang luar biasa saat klub kesayangan mereka sedang dalam kondisi memprihatinkan. Bahkan suatu ketika, saat Noel tengah mabuk berat pada medio 2000an, ia menginginkan City membeli Paolo Maldini agar timnya bisa meraih sukses. Jika perlu, ia sendiri yang akan turun bernegoisasi dengan salah satu legenda AC Milan itu. adakah yang kurang dari kecintaan Gallagher’s pada City?

Seiring berjalannya waktu, tuhan menunjukan keadilannya. Ia memberikan hadiah yang cukup istimewa bagi klub yang kental dengan aroma biru langit ini. tuhan meletakan Thaksin Shinawatra untuk membangun fondasi City yang kian tak jelas. Thaksin dengan cekatan membangun tim yang hampir roboh itu perlahan-lahan. Ia membeli beberapa pemain untuk dijadikan pilar klub. Ia juga mendatankan beberapa juru racik demi menstabilkan permainan tim. Hasilnya ? City merangsek sedikit demi sedikit ke papan tengah.

Kucuran uang dari Thaksin jugalah yang memberikan sedikit bumbu pada derby manchester di awal-awal kepemimpinan eks perdana menteri Thailand itu. saya masih ingat bagaima lesatan Elano Blumer bersarang dengan manisnya di sisi gawang Edwin Van Der Sar. City menang tipis 1-0. Namun kemenangan akan terasa spesial. Karena  yang mereka tundukan adalah Manchester United.

Sejak pertandingan itu, saya selalu menganggap derby manchester menjadi salah satu derby yang patut untuk disaksikan. Karena ada dua hal sederhana yang akan tersaji disana. City ingin membuktikan mereka mampu memberikan perlawanan kepada United. Sementara United ingin memberitahu dunia bahwa hanya ada satu tim di Manchester. Persaingan kedua tim semakin memanas saat Sheikh Mansour mengakusisi City dari tangan Thaksin. Ia menggelontorkan ratusan juta pounds demi mendatangkan kesuksesan bagi sisi biru Manchester. Hasilnya bisa dibilang cukup memuaskan. City berhasil menjuarai dua gelar Liga Inggris. Satu piala FA, satu Piala Liga dan piring cantik bernama Community Shield dalam rentan waktu lima tahun terakhir setelah Mansour tak pernah lelah membuka rekeningnya untuk City.

Kedigdayaan City dalam beberapa tahun kebelakang, pada akhirnya membuat United mengakui adanya rivalitas diantara mereka. Bahkan jika dirunut tiga tahun ke belakang, united agak kurang menggigit jika tampil di Teater Impian. Mereka kandas tiga kali oleh si tetangga berisik. Salah satunya dengan skor yang cukup membuat mereka tercengang, 1-6. Skor tersebut terjadi pada saat Ferguson masih melatih United. Anda bisa bayangkan wajah bacoonnya saat united dikalahkan dengan skor sebesar itu oleh tim yang dianggapnya sebagai tetangga berisik. Hal itu sudah dipastikan akan menganggu psikologis Fergie sampai ia mengalami sakaratul maut di ujung usianya.

 Selepas pensiunnya Fergie dari sepakbola, United seperti kehilangan arah. Para pemainnya saat itu bak ayam kehilangan induknya. Lihat saja bagaimana performa Van Persie dan kolega semenjak tak ada sosok yang sering mengunyah permen karet selama 27 tahun di sisi lapangan. David Moyes ditunjuk oleh Fergie pribadi sebagai suksesornya di teater impian. Moyes memang memberikan banyak kontribusi bagi United musim kemarin. Salah satunya dengan membiarkan City mendouble United dalam pertandingan kandang maupun tandang di ajang Liga Inggris. United terperosok ke peringkat ketujuh. Sementara City berhasil meraih double winner di akhir kompetisi.

Pertarungan uang jelas terasa sekali saat United dan City dikaitkan satu sama lain. Lihat saat awal musim United mendatangkan Angel di Maria, yang mana transfernya memecahkan rekor transfer tertinggi untuk Liga Inggris. Selain itu, United juga mendatangkan Radamel Falcao dari As Monaco dengan status pinjaman. Harga peminjaman tersebut dipredisksikan beberapa sumber mencapai lebih dari sepuluh juta poundsterling. Belum lagi jumlah uang yang dikeluarkan untuk memuluskan kedatangan Ander Herrera, Marcos Rojo dan Daley Blind. Padahal, ini bukanlah United yang biasanya kita tahu. United tudak pernah membelanjakan uang sebesar musim ini pada beberapa tahun belakangan. United ruins the football.

Sementara itu, City juga mendatangkan beberapa pemain untuk melapisi pertahanan mereka yang kian tergerus usia Eliaquim Mangala, Fernando Reges dan Bachari Sagna merapat ke Carrington. Khusus Mangala, City gagal dalam bursa transfer musim panas lalu. lihat saja bagaimana kontribusi mereka untuk tim. bisa dibilang agak mengecewakan. mengingat dana yang dikeluarkan cukup besar. Belum lagi pemain anyar yang didatangkan di Transfer Window Januari macam Wilfried Bony, ia hanya mencetak sebutir gol. Itupun kala melawan WBA.

Jika anda gemar berhitung. Coba kalkulasikan berapa total harga pemain dari kedua kesebelasan tersebut. Walaupun sebenarnya konteks rivalitasnya masih tergolong sangat minim: Menguasai Manchester. Dua puluh dua orang yang anda lihat di lapangan saat keduanya beradu taktik memiliki bandrol yang cukup untuk menyelenggarakan Liga Indonesia selama puluhan tahun kedepan. Derby kedua tim ini cukup mahal diantara derby-derby lain di Britania Raya.  Hanya laga El Classico yang mampu menyaingi besarnya harga pemain yang berlaga di Derby Manchester.

Kakalahan City dari United pada super Sunday lalu juga memberikan warna baru. United masih mampu menggigit City walaupun hanya sekali dalam lima pertemuan terakhirnya di Old Trafford. United dibawah asuhan Van Gaal memang lebih menyenangkan. Mereka mampu memberikan perlawanan bagi City. Setidaknya kekalahan di Etihad pada pertemuan pertama mampu dibalas. Kini United sudah berada di atas City dengan torehan empat poin lebih banyak.

Sialnya saya tak mendapat sesuatu yang spesial berupa baku hantam antar pemain dan panasnya tensi pertandingan minggu kemarin. Tak etis rasanya melihat sebuah derby tanpa adegan perkelahian. Sama saja seperti anda meletakan sayur oyong untuk disantap bersama nasi putih pada saat dinner bersama orang terkasih. Hambar.

Jika boleh diklasifiasikan. Super Classic adalah pertarungan antar orang dewasa. Old Firm adalah perkelahian anak SMA. El Classico adalah pertarungan anak SMP. Derby manchester sendiri adalah pertarungan antar anak SD yang masih ingusan karena tensinya belum cukup besar dibandingkan yang lain. Namun siapa tahu klasifikasi ini akan berubah seiring berjalannya waktu.

Kamis, 19 Maret 2015

Apakah anda sedih dengan performa City musim ini? Saya tidak.

Menangislah...bila harus...menangis (Dewa 19 - Air Mata)
Saya rasa, tak ada tim “besar” yang menyedihkan selain Manchester City musim ini. setelah memenangi double winner musim lalu, performa the Eastlands cukup merosot tajam. Mereka gugur di Capital One Cup, serta harus merasakan magisnya kutukan FA Cup setelah disingkirkan Middlesbrough di babak ketiga. Liga Inggris? Satu tangan Chelsea sudah menggengam gelar ini. Untuk Liga Champions, City sudah kalah dengan agregat 1-3 oleh Barcelona semalam, sekaligus memastikan tak ada wakil Inggris yang di perempat final UCL 2014/15. Saya rasa, anda yang ngefans banget The Citizen akan memunculkan pertanyaan besar. Ada apa dengan City musim ini ?

Sebagai sebuah tim besar, City belum mampu tampil konsisten di setiap pertandingannya. Memang, mereka mampu mencetak 10 kemenangan beruntun beberapa waktu lalu, tanpa kehadiran Aguero. setelah kemenangan-kemenangan tersebut, performa City beranjak medioker. Kemenangan menjadi sulit diraih. Mentalitas adalah hal yang belum dimiliki pasukan Manuel Pellegrini.

City mungkin adalah tim yang diciptakan untuk menjadi besar. Namun mereka tak bisa menjadi juara setiap kompetisi digelar. Mereka tak sestabil Chelsea, PSG, ataupun Real Madrid. City –menurut saya- hanya dikondisikan untuk memberi warna lain di Manchester, setelah sekian lama terbenam. Bersyukurlah kalian sudah bisa menyaksikan ada warna lain di Manchester selain merah. 

Di pertandingan kontra Burnley minggu kemarin, mereka bermain sangat lambat. Selambat kereta api kelas ekonomi yang selalu berhenti di setiap stasiun. Pellegrini sendiri terlihat menyerah saat pertandingan digelar. Ia kerap duduk bersandar sembari menghembuskan nafas. Dia terlihat seperti pensiunan pegawai negeri yang tengah menikmati hari tua, tanpa secangkir teh, tentunya. Ini bukanlah Pellegrini yang biasanya. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Apakah tawaran dari Barcelona membuat hubungannya bersama sisi biru Manchester akan berakhir begitu saja ? Cuma dia yang tahu.

Jika sudah begini, saya hanya memiliki sebuah harapan yang paling realistis musim ini. melihat City berdiri diatas United di papan klasmen liga adalah segalanya. Bahkan melebihi menjuarai piala sekalipun. Hal ini memang terdengar agak absurd. Namun begitulah adanya. Bukankah sebenarnya itulah yang diinginkan para blue Manchunian setelah sekian lama?

Tak memenangi apapun musim ini, terasa begitu memilukan bagi kalian, namun saya tak ambil pusing. Dulu, pada saat City masih berstatus medioker, bukankah mereka juga tak pernah memenangi apapun? Bukankah mereka lebih sering berkutat untuk menghindari degradasi? Saya terkadang cukup iri dengan fans tim-tim yang memiliki kasta dibawah City seperti Newcastle, Lazio hingga Herta Berlin. Mereka berharap tim yang mereka dukung selalu menang, tapi jika tidak menang, tak mengapa.

Menyaksikan City bermain setiap minggunya melalui kotak ajaib bernama televisi adalah sebuah berkah tersendiri untuk saya. Bukankah terlalu berharap akan sesuatu yang tak mungkin bisa menyebabkan hidup terasa menyebalkan? Jangan terlalu berharap City bisa menjadi apa yang kalian inginkan. Jika terus memaksakan keinginan itu, anda bisa mewujudkannya dalam permainan macam Football Manager ataupun bermain Master League di Pro Evolution Soccer dengan mencantumkan nama anda sebagai pelatih pada kolom new game, sederhana bukan?

Minggu, 09 November 2014

Analisis sederhana Manchester City musim ini


And the Sadness Begin.............


Manchester City kini sedang dalam keadaan darurat. Usai menang 1-0 di derby Manchester pekan lalu, the Eastlands kurang menunjukan giginya di dua laga terakhir. Tim yang diarsiteki Pellegrini ini seakan tampil melempem. Semalam, City dipaksa “hanya” membawa pulang satu angka dari Loftus Road, kandang dari Queens Park Rangers. Dua gol dari Aguero semalam hanya membantu City terhindar dari kekalahan.

Sebenarnya, performa City memang anjlok pasca kalah dari West Ham United beberapa pekan lalu. Lini belakang mereka seakan terlalu kaget menerima eksploitasi dari lawan. Semenjak itu, status City sebagai tim petrodollar mulai dipertanyakan. Mereka lantas kalah oleh Newcastle United di babak keempat piala liga serta hanya menang tipis atas United di derby kemarin, itupun dengan cara main “yang membosankan” pula, dan saat menjamu CSKA di Etihad, City keok 1-2.

Jika ingin dianalisis, apa yang menyebabkan City kurang menggigit musim ini (dan di musim-musim sebelumnya, tentu saja), mungkin saya bisa menjabarkannya secara ringkas, tentu saja penjabaran saya masih prematur dan ada kemungkinan salah dimana-mana.
·         Faktor musim genap

Ini mungkin akan mengusik saya, bahkan anda yang mengaku sebagai die hard fans Man City. Anda bisa lihat beberapa musim kebelakang. Di musim 2010/11, City memang berhssil mengalahkan Stoke City di final piala FA, dan memposisikan diri di jajaran elit Premier League, dengan berdiri tegap di peringkat ketiga. Namun mereka kandas di  16 besar EURO Cup oleh Dynamo Kiev, yang memiliki materi pemain dibawah City. Seharusnya diatas kertas, City bisa mengtasi eks klub Andry Shevchenko itu. Pada musim 2012/13. City hancur sehancur hancurnya. Hal ini bisa dilihat dari melempemnya mereka di liga, kekalahan tragis di Final piala FA oleh Wigan, serta gagal lolosnya mereka ke fase 16 besar Liga Champions. Menjuarai Communitty Shield bukanlah sebuah hal yang patut dibanggakan. Itu hanyalah piring cantik yang dibingkai sedemikian rupa, tak ada nilai di dalamnya. Dan pada akhir musim, Roberto Mancini terpaksa dienyahkan dari Etihad.

Musim ini sepertinya sami mawon dengan musim 2012/13. Status  City sebagai juara Premier League dan piala liga musim lalu seakan menambah beban di pundak mereka. Siapa bisa bayangkan tim dengan komposisi pemain super menakjubkan ini bisa kalah dari Stoke City, West Ham, CSKA, bahkan Newcastle sekalipun? Anda semua tak bisa mengiranya bukan? Ngeri.

Apalagi jika anda seorang glory hunter yang tiba-tiba mendukung City karena raihan gelar mereka. Apa yang bisa diharapkan City musim ini? Untuk Premier League, Chelsea tak terbendung lagi. Saya bisa memastikan, Chelsea sudah melengkapi syarat untuk juara liga musim ini. Piala liga? City sudah kandas di babak keempat oleh tim yang pernah dibela Santiago Munez di film Goal. Liga Champions? Peluang City untuk lolos saja sudah berat, mentalitas tim kota pelabuhan ini masih cemen untuk tampil di ajang paling presis sebenua biru. Communitty Shield? City kalah 3-0 dari Arsenal. Satu-satunya trophy yang bisa diraih adalah piala FA, itupun masih tanda tanya. Karena kita belum tahu siapa lawan city di babak-babak selanjutnya. Tapi pertanyaannya, apakah Mansour rela uang yang sudah ia habiskan untuk membangun City musim ini hanya berbuah piala FA? Silahkan tanya kepadanya.

·         Mentalitas

Pada dasarnya, semenjak awal dibeli oleh Thaksin, hingga sekarang dimiliki oleh Mansour. City bukanlah tim yang di design untuk menjadi juara, saya yakin sekali. Lihat saja daftar transfer City. Apakah mereka yang pernah / sedang bermain di City memiliki mental pemenang? Mungkin hanya Yaya Toure dan Frank Lampard yang memiliki tipikal pemenang. Dari segi pelatih juga demikian. Apa sumbangsih para pelatih City terdahulu sebelum Pellegrini? Mancini bisa membuat Inter terlihat hebat saat Juventus tak ada di serie A, Mark Hughes hanya membuang-buang uang di the Sky Blues. Sven-Goran Erickson hanyalah pesakitan bagi timnas Inggris. Pellegrini? ia hanya mewarisi skuad “sisaan” Mancini sebelum membawa City meraih double winners kemarin. Bukankah begitu? Mentalitas City sebagai tim besar mulai dipertanyakan.

·         Gaji pemain yang kelewat tinggi

Dulu, anda hanya bisa melihat segelintir pemain dyang memiliki gaji diatas 100.000 Pounds sepekan. Biasanya, pemain ini adalah pemain sentral di timnya dan memiliki pengaruh besar seperti Gerrard, Lampard, Terry, Ronaldo, Messi dan lain sebagainya. Orang-orang tersebut jelas memiliki pengaruh cukup signifikan di timnya. Namun City sepertinya tak memikirkan hal itu. Skuad mereka dihuni oleh pemain-pemain yang bisa dibilang semenjana untuk digaji besar. Lihat saja Edin Dzeko, Samir Nasri, Alex Kolarov misalnya. Apa yang mereka berikan untuk tim sejauh ini? Kolarov terlalu berlebihan untuk dibayar mahal. Kualitasnya kurang untuk kategori pemain mahal. Nasri? Ah ia bukanlah sosok yang penting-penting amat bagi tim, ia juga belum bisa dikatakan sebagai otak permainan. Medioker. Dzeko? Hanya orang gila yang mau membayar striker tumpul ini dengan gaji fantastis. Koleksi golnya sangat minim untuk seorang striker mahal. Mereka seharusnya dapat menunjukan permainan yang ciamik, mengingat pendapatan mereka sangatlah besar, sialnya lagi, mereka yang digaji tinggi di City tak memiliki mental sebagai pemenang. Menyebalkan.

·         Director of Football (DoF)

Mansour menunjuk Txiki Begiriastain untuk menjadikan City sebagai suksesor Barcelona di ranah Britania. Tapi jika saya telaah, Txiki hanya membuat kekacauan di City. Lihat saja transfer-transfer flop City seperti Javi Garcia, Matija Nastasic, Stefan Jovetic, hingga yang terbaru, Eliaquim Mangala. Semuanya bisa dibilang gagal. Mungkin dari sekian transfer tersebut, hanya Negredo yang bisa dibilang lumayan. Tapi kita harus ingat, Negredo sudah tidak ada di City sekarang.

Campur tangan DoF pada sesi transfer (untuk konteks liga inggris) memang menyebalkan. Seharusnya manager memiliki opsi lebih banyak perihal jual beli pemain. DoF sebetulnya tidak terlalu diperlukan di liga Inggris. Lihat saja performa Spurs / Newcastle musim lalu, mereka tak bisa berbuat banyak di liga akibat pemain yang dibeli DoF mereka tidak benar-benar diperlukan oleh pelatih. Spurs gagal ke Liga Champions, Villas-Boas dipecat karena dianggap gagal. Sementara Newcastle hampir degradasi kemarin akibat banyaknya campur tangan Joe Kiennar, jika Lord Remy tak berbaik hati menyumbangkan gol-golnya, Newcastle bisa lenyap dari daftar tim yang berlaga di Premier League musim ini Atas dasar itulah, saya mulai mengerti mengapa Jose Mourinho tak ingin ada campur tangan DoF dalam membangun timnya.

·         Ambisi Mansour sebagai pemilik dan Status sebagai tim modern

Sebagai seorang investor, sudah barang tentu Mansour mengharapkan sesuatu dari investasinya. Ratusan juta pounds sudah ia keluarkan demi membangun City menjadikan sebagai salah satu tim besar yang siap bersaing di pentas lokal maupun Eropa. Semenjak Mansour mengakusisi City dari Thaksin, ia sudah mendapatkan semua gelar di kancah domestik. Piala FA (2010/11), Community Shield (2012/13), Premier League (2011/12, 2013/14) dan Capital One (2013/14). Gelar-gelar itu tentu bukan hal yang prestisius bagi Mansour. Liga Champions adalah hal yang wajib direngkuh City. Mansour sadar, City tentu tidak mudah menggapainya. Beberapa waktu lalu, ia hanya menargetkan kepada Pellegrini untuk lolos ke babak perempat final Liga Champions musim ini. Secara kasat mata, hal ini tidaklah sulit mengingat City memiliki skuad super yang mungkin saja bisa menjuarai Liga Champions. Namun sepertinya, mentalitas merekalah yang membuat sulitnya berprestasi di Eropa. Sialnya lagi, Mansour memiliki kesabaran lebih untuk pelatih. Ia tak segan memecat pelatih jika target tak sesuai harapan. Hal inilah yang membuat City gagal berkembang, mereka kurang menikmati proses perjalanan menuju kejayaan. Hal ini jelas membuat City tak memiliki filosofis permainan yang jelas seperti United di Era Ferguson, Arsenal di bawah Wenger. Ah City terlalu modern untuk sepakbola, dimana hasil menjadi lebih penting daripada proses.

Beberapa faktor inilah yang membuat perjalanan City agak tersendat di semua ajang. Sebagai fans, saya tentu hanya bisa mengambarkan kondisi tim kesayangan melalui sisi subjektivitas saja. Tentu saja  validnya tulisan ini masih prematur. Anda boleh mengamininya boleh tidak bahkan boleh menyangkalnya. Apapun itu, City harus berdiri diatas United musim ini. itu sudah cukup.

Sabtu, 01 November 2014

Jelang Derby Manchester: Perang Argentinos, pelipur lara dan penguasa kota.


A Pride of Manchester : City or United?


Ada hal yang cukup menarik perhatian saya ketika orang-orang Argentina melakukan ekspansi ke sisi-sisi Manchester belakangan ini. seperti kita tahu, City sudah memiliki para Argentinos macam Aguero, Zabaleta, Demichelis dan yang terbaru Willy “Van Diesel” Caballero, yang baru saja bergabung dari Malaga musim ini. Orang-orang Argentina ini memiliki peranan yang cukup signifikan di Manchester biru. Zabaleta adalah pembunuh kelas kakap yang kerap melakukan penetrasi berbahaya ke kotak terlarang lawan. Demichelis masih bisa dibilang kuat untuk mengawal lini belakang City, walaupun usianya sudah termakan habis, ia sudah memiliki segudang pengalaman membela tim-tim beken Eropa. Aguero adalah predator kelas kakap untuk City, ia memiliki porsi mencetak gol yang lumayan semenjak kepergian Alvaro Negredo ke Valencia. Hal ini bisa dilihat dari koleksi 9 golnya bersama City hanya di ajang premier league. Walaupun terkadang inkonsisten, Aguero selalu menjadi andalan City di lini depan. Sementara Caballero sendiri adalah salah satu kiper terbaik La Liga musim kemarin. Ia datang ke City bukan untuk sekedar melapisi Joe Hart. Ia datang untuk menggusur Hart yang kerap bermain bak yoyo belakangan ini. hanya perkara waktu saja untuk kita agar melihat Caballero mengisi pos terakhir the Eastlands.
Kegemilangan para Argentinos di City sepertinya membuat Manchester United agak iri. Selepas kepergian Carlos Tevez beberapa musim lalu, United nampaknya mulai merindukan sosok Argentinos di skuad mereka. Dengan gerilia superkilat di bursa transfer musim panas kemarin, mereka mendatangkan Angel di Maria dari Real Madrid dan Marcos Rojo dari Sporting Lisbon guna mengembalikan kembali kejayaan mereka yang hilang pasca “menjadi klub yang biasa-biasa saja” di bawah arahan David Moyes musim lalu. Kita semua tahu, di Maria adalah sosok yang cukup sentral untuk madrid. Puluhan assist sudah ia bagikan kepada para galaticos bernabeu lainnya. Penetrasi serta tusukan mautnya mampu membuat bek-bek di Spanyol mati kutu. Tak heran jika United mau menggelontorkan dana besar untuk di Maria sekaligus memberikannya nomor 7,  nomor yang sudah tak lagi dianggap legendaris semenjak dikenakan si rapuh Michael Owen.  Sementara Rojo sendiri adalah sok yang cukup piawai dalam mengawal pertahanan. Bahkan, kehadiran Rojo di theatre of dreams adalah permintaan khusus Van Gaal. Dirinya menganggap United terlalu rapuh di lini belakang. Sosok Rojo dianggap pas untuk menambal kebocoran tersebut.
Battle of Argentinos pada derby Manchester akan menjadi pemandangan tersendiri pada Minggu (2/11) besok. Saya berharap ada hadiah manis dari Zabaleta untuk di Maria, hadiah itu cukup dengan membuat kaki di Maria menjadi lumpuh sejenak. Dan saya juga berharap perseturuan Rojo dan Aguero dapat terjadi di lapangan pada derby besok. Semoga saja Aguero terpukul telak di bagian kepala dan menyisakan memar di wajah tampannya. Mungkin keinginan saya agak ngawur, namun apa artinya sebuah derbi jika tak ada tensi tinggi? Bukankah perkelahian juga merupakan salah satu pemicu tingginya tensi permainan?
Terlepas dari perang para imigran asal negara Mario Kempes itu. ada faktor lain yang akan membuat derby kali ini akan berlangsung seru, perihal pelipur lara. Baik City maupun United sama-sama belum meraih kemenangan akhir-akhir ini. United hanya mampu meraih dua poin dalam dua laga terakhirnya di Liga (draw melawan Chelsea dan West Brom). Sementara City lebih parah lagi, hanya meraih sekali seri dalam tiga ajang mereka (Draw melawan CSKA di Liga Champions, Kalah melawan Hipster London, West Ham United di Liga, serta kalah dari Newcastle di babak keempat piala liga). Kemenagan seakan menjadi harga mati untuk kedua tim yang tengah terluka ini. dilihat dari sisi manapun, keduanya memang membutuhkan obat untuk memulihkan performa mereka yang merosot belakangan ini. dan obat tersebut bisa diambil di apotik Etihad besok sore.
Disamping kemenagan, baik United maupun City akan sama-sama bernafsu untuk membuktikan diri menjadi yang terbaik di Manchester. Musim lalu, saat masih ditangani Moyes. United berhasil mencetak rekor. Mereka harus kalah baik kandang maupun tandang oleh City. Ini jelas memalukan, mengingat United adalah tim besar, mereka harus kalah dari tim kemarin sore, dua kali, di musim yang sama, kota yang sama. Untungnya tidak kalah 1-6. Ah sudahlah, ini hanya dagelan semata. Sementara City sendiri ingin membuktikan diri sebagai Pride Of Manchester kepada United. Mereka adalah satu-satunya wakil asal kota pelabuhan ini yang tampil di liga champions selepas United menyatakan bosan tampil di ajang ini musim kemarin. Sementara itu, Meneer Van Gaal juga harus membuktikan dirinya lebih hebat dari Pellegrini perihal adu taktik. Mengingat Van Gaal adalah salah satu pelatih dengan Cv terbaik di Eropa. Apapun alasannya, status sebagai penguasa kota jelas mutlak dimiliki keduanya. Kemenangan jadi hal yang harus diraih kedua tim. Hasil seri bukalah hal yang diinginkan kedua tim. Sekalipun nantinya harus berakhir seri, minimal harus ada korban dalam pertarungan besok. Here there are mate. .enjoy Manchester Derby !!!