Senin, 20 Oktober 2014

Balada Jox kecil dan Republik Sulap






Beberapa tahun lalu, media memperkenalkan seorang kepada khalayak. Ia adalah sosok yang kurus, tinggi, murah senyum, rendah hati, berflanel ala Cobain dan Vedder, berwajah mirip Barry Obama, orang itu adalah Jox. Jox merupakan seorang yang gemar terhadap musik rock yang hingar bingar. Selain musik rock, Jox adalah salah satu yang paling berpengaruh di Republik Pakubuwono. Kala itu, Jox memenangi anugrah sebagai gubernur terbaik versi apalah, saya lupa. Singkat kata, Jox diperintahkan oleh bos besar Chicago Bulls untuk mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di kota Joker. Dan Jox mengamini. Mungkin ia takut kualat.

Sekedar catatan, Joker adalah salah satu kota yang tak layak untuk disebut kota. Joker terlalu sibuk, lebih sibuk daripada London dan New York. Terlalu padat, sepadat Bombay dan New Delhi. Dan terlalu kecil, sekecil Singapura atau San Marino. Banyangkanlah sendiri seperti apa kota Joker. Kota ini cocok untuk anda yang ingin menjadi musisi cadas, karena iklim dan kulturnya sangat cocok untuk mendukung obsesi kecadasan anda.

Kembali lagi ke pokok permasalahan, Jox bertarung dengan empat kandidat lainnya demi kursi nomor satu di Joker. Jox mampu melewati putaran pertama dengan baik. Ia menyingkirkan lawannya untuk bertarung dengan penguasa lama, Fox. Pertarungan sengit terjadi. Kata demi kata keluar dari mulut keduanya demi meyakinkan warga Joker. Kata tersebut banyak berisi perencanaan pembangunan, merapihkan bobroknya menejemen, infrastruktur serta tetek bengek lainnya yang terlalu malas untuk saya jelaskan disini.

Pada pertarungan kedua, Dimana Jox menghadapi Fox, warga Joker berbondong-bondong memasuki bilik demi memberikan energi berlebih dan sorak sorai kepada keduanya. Hasilnya, Jox berhasil mengalahkan Fox dengan uppercut dan diakhiri dengan TKO. Jox menang telak atas penguasa lama, Si warga asli Joker (walaupun saya meragukan jika ada warga Joker bernama foxbow, tapi biar saja lah). Sebagai pengganti sabuk kejuaraan, Jox berhasil menduduki singgasana kota yang paling absurd, sumpek namun penuh dengan investasi yang tak dapat terlihat oleh mata telanjang, Joker.

Jox kemudian menandatangani perjanjian Rock Wrote, diasana ia berjanji akan memimpin Joker dengan baik selama lima tahun. Sebuah janji yang menyegarkan untuk warga Joker yang haus akan dahaga akan pembuktian dari janji seorang pemimpin. Dalam janjinya, Jox bersumpah atas nama tuhan. Sebuah sumpah yang sakral dan terlalu berdosa untuk di ingkari. Apalagi Jox saat itu sudah bergelar Haji. 

Tahun tahun awal kepemimpinannya, Jox seakan menjadi Superman. Ia hadir dengan beragam inovasi menarik. Relokasi kanal banjir, disiplin dan ketegasan kepada koorporasi, blusukan ke perkampungan dan selokan-selokan, pendirian kampung deret, negoisasi dengan sepuh Brotherland yang berujung pada tertatanya fuckin market tersebut serta penambahan armada untuk bus trans,. Poin-poin penting itu sudah dimiliki Jox saat memimpin the Dammed City.

Berhasilnya poin-poin tersebut membuat beberapa orang (saya mengindikasikannya sebagai proyek gelap Chicago Bulls, untuk memperbaiki kredibilitasnya) ingin mendeklarasikan Jox sebagai orang nomor satu di Republik sulap. Republik yang sangat sakti. Dimana semua hal gaib dan magis bisa dilakukan tanpa orang lain yang melihatnya tahu. Republik sulap sendiri adalah republik yang berbasis kepulauan-kepulauan. Jumlah pulaunya melebihi 10.000 dan hampir semuanya indah. Bahkan beberapa waktu lalu, Pesepakbola dunia yang terkenal seperti Kristiano mau bermain di kompetisi sepakbola Liga Sulap suatu hari nanti. Ia hanya meminta bayarab sebuah pulau Hali Devarta.

Republik sulap sendiri sebenarnya adalah sebuah kasur yang empuk bagi para kapitalis wahid dunia. Mereka berlomba-lomba menjajakan tampilan berhalanya di republik ini. Sekalipun orang-orang di Republik ini pandai sulap, mereka tak bisa menyulap para kapitalis yang terus mendisplay kenikmatan pasca era modern. Mereka kerap tunduh dan patuh terhadap dollar ataupun poundsterling.

Deklarasi tersebut ternyata bukan omong kosong. Queen, selaku ketua umum Chicago Bulls mempromosikan Jox untuk maju sebagai calon pemimpin Republik Sulap. Queen sendiri sudah beberapa kali mencalonkan diri sebagai calon pemimpin, ia selalu gagal. Faktor ayahnya adalah legenda Republik Sulap belumlah cukup mengangkat kredibilitasnya.  Saat promosi calon di titahkan, belum ada konfirmasi resmi dari Jox. Waktu itu, Jox bilang ia hanya fokus menangani Joker bersama rekan sejawatnya, Uhuk Batuk. 

Waktu berganti, bulan berganti  dan suara burung tetap berkumandang sebagaimana seharusnya. Jox akhirnya menyetujui hasil rapat Chichago Bulls untuk menjadikannya sebagai calon pemimpin Republik Sulap. Dengan demikian, Jox meninggalkan Uhuk, patner kerjanya untuk mengurusi Kota Joker. Ia juga mengingkari perjanjian Rock Wrote, menghianati warga Joker, serta mengkhianati sumpahnya kepada tuhan. Jox  is a judas? I dunno.

Yang jelas, ada sebuah hadist yang menggambarkan keadaan ini:

"Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)." (H R. Muslim).

Berikut adalah beberapa hal yang bisa ditafsirkan:

Pertama: Jox menyiayiakan amanah untuk memimpin Joker selama lima tahun kedepan.

Kedua: Jox menghianati janjinya terhadap warga Joker, Rock wrote serta kepada tuhannya.

Ketiga: Jox masih memiliki janji yang belum ia realisasikan kepada warga Joker.

Keempat: Jox terlalu lemah, Jox terlalu mudah mengamini semua titah Queen.

Kelima:  Jika Jox nantinya memimpin Republik Sulap, bisakah ia amanah?.

Keenam: Amanah yang diabaikan oleh Jox akan menjadi sebuah penyesalan bagi Jox pribadi

Jumat, 01 Agustus 2014

Agresi Gaza dan Sepakbola Zion

 
Timnas Sepakbola Istrael
 
Saya mungkin termasuk salah satu orang yang jenuh terhadap agresi Istrael ke Gaza. Bagaimana tidak, sejak masih sekolah dasar hingga sekarang, selalu ada berita tentang bombardir kaum zion ke tempat yang disinyalir menjadi persembunyian pejuang Hammas. Entah mengapa, karena bodoh atau tak bisa membaca situasi, roket-roket istrael tak pernah mengenai markas Hammas. Apakah Hammas memang dilindungi yang maha kuasa? Entahlah.
Anehnya, jika Hammas melakukan agresi ke Istrael, mereka kerap mengenai sektor-sektor pemerintahan Istrael. Inilah keajaiban. Tuhan selalu bersama orang-orang teraniaya. Ah sudahlah, saya tak ingin terlalu agamais disini toh juga saya tak begitu memperdulikan konflik disana. Karena kehidupan saya terlalu banyak mengandung konfli. Saya tak ada waktu untuk mengurusi urusan receh tersebut.
Saya ingin menggarisbawahi masalah budget yang dikeluarkan Istrael untuk biaya perang. Sudah berapa juta dollar yang mereka keluarkan sepanjang waktu demi menyerang Gaza? Hal tersebut terlalu mubazir jika hanya digunakan untuk berperang dengan Palestina. Bukankah bangsa Istrael –atau yahudi lebih tepatnya- termasuk bangsa yang cerdas? Qur’an pun pernah menyebutkan hal tersebut. Saya lupa dibagian mana. Apakah memang prinsip orang cerdas selalu membuang-buang uang? Saya rasa tidak.
Jika saja Istrael mau sedikit saja mengalokasikan dana perang mereka yang tak penting itu ke ranah sepakbola, saya yakin perkembangan sepakbola mereka tak akan kalah dengan sepakbola Inggris, Italia atau Spanyol. Bukankah orang yahudi juga gemar sepakbola? Lihat saja bagaimana Abramovic menyulap Chelsea menjadi tim yang menakutkan di Eropa. Atau Glazer yang sudah berkuasa di United beberapa tahun belakangan. Walaupun sebagaian orang-orang tersebut lebih mengutamakan bagaimana bisnis mereka berkembang di sepakbola. Minimal mereka mencoba memajukan sepakbola. Lihat saja transfer-transfer bombastis yang dilakukan Abramovic untuk Chelsea atau sepak terjang keluarga Glazer bersama United. Nama-nama besar selalu hadir disetiap bursa transfer didengungkan. Semua itu dilakukan atas dasar ingin membuat klub yang mereka sokong menjadi lebih besar dan berprestasi.
Bagaimana dengan sepakbola Istrael sendiri? hampir setiap tahun saya selalu melihat perwakilan mereka mentas di ajang Eropa. Baik itu Liga Champions ataupun piala UEFA. Tapi, sejauh mana perwakilan mereka melangkah? Untuk kadar Liga Champions, perwakilan agung mereka hanya sampai pada fase 32 besar. Tak lebih dan kurang. Jika sedang beruntung, mereka masih mendapatkan jatah bermain di piala UEFA berkat duduk diperingkat ketiga di fase grup. Untuk kadar piala UEFA, agak lebih baik, perwakilan mereka kerap maju ke fase gugur. Namun hanya sebatas itu, sungguh menyedihkan.
Apalagi jika kita mencoba mencari rekam jejak pemain mereka yang terkenal di dunia sepakbola secara keseluruhan. Berapa persentasenya? Kecil sekali. Saya hanya mencatat nama Yossi Bennayoun saja. Yossi pernah membela Liverpool, Chelsea dan West Ham. Namun untuk dua nama pertama, Yossi bukanlah pilihan utama. Pasalnya, kualitas Yossi masih jauh untuk bersaing dengan pemain sekaliber Gerrard ataupun Lampard. Yossi jelas bukan pilihan yang baik untuk diturunkan dari awal laga. Ditambah lagi, ia kerap inkonsisten dan bingung dalam bermain. Ia bak domba tersesat diantara gundukan berlian. Sungguh memilukan.
Yang jadi pertanyaan, apakah federasi sepakbola Istrael pernah memikirkan kepiluan saya tersebut. Jika boleh jujur, mereka sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi lebih baik dan mampu menghasilkan pemain-pemain yan berkualitas apabila itu tadi, mereka mencoba menyisihkan sedikit dari dana perang untuk memajukan sepakbolanya, merapihkan struktur pembinaan pemain muda bahkan bisa saja tim nasional mereka lolos ke piala Eropa atau piala Dunia. Bukankah itu tidak terlalu muluk untuk mereka? Bisa saja mereka menemukan Messi atau Neymar baru di tanah yahudi bukan?
Jika memang benar mereka bisa memajukan persepakbolaan mereka. Bukankah nantinya nama mereka akan harum di mata Internasional? Bukankah hal tersebut amat baik untuk merapihkan kredibilitas mereka yang kerap di cap tak memiliki rasa kemanusiaan karena kerap membunuh orang-orang yang tak bersalah? Dan jika sepakbola mereka menjadi maju, bisa saja mereka membantai Jerman atas nama balas dendam bangsa yahudi yang sudah dibunuh Hitler puluhan tahun lalu melalui sepakbola. Semua kemungkinan bisa terjadi. Mereka bisa membuat Angela Merkel menjadi jalang murahan dengan sepakbola.

Rabu, 30 Juli 2014

Mengenang 7 tahun kompilasi Mesin Waktu: Teman-Teman Menyanyikan Lagu Naif


Cover Album Mesin Waktu: Teman-Teman Menyanyikan Lagu Naif



Saya pertama membeli kompilasi ini di tahun 2007, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah. Dengan uang saku seadanya, saya membeli kompilasi super berharga ini dalam format kaset. Saat itu, kasetnya sendiri berharga Rp 20.000, sebuah harga yang relevan untuk anak SMP macam saya. Apalagi, saya juga hanya memiliki tape sebagai media player pemutar, cocoklah.

Tak kurang 14 lagu dimainkan oleh artis-artis sidesterm. Ada beberapa rekan seangkatan Naif dalam industri musik seperti Fable dan Cherry Bombshell. Rekan-rekan musisi dari almamater Naif, Institiut Kesenian Jakarta seperti the Adams, Karon n Roll, White Shoes dan Goodnight Electric. Selain itu, ada beberapa nama lain yang cukup fenomenal di ranah underground lokal seperti Superglad, Sore, Tika, Icarie, Brandals, Media Distorsi, Monophones, serta band asal negeri Upin-Ipin, Couple.

Adanya kompilasi ini jelas memberikan stigma bahwa Naif sudah di cap sebagai legenda musik Indonesia. Bahkan Slank, Dewa, bahkan Gigi hingga kini belum mendapatkan tribute atas apa yang mereka persembahkan 20 tahun belakangan ini. Inilah yang membuat Naif spesial dari beberapa nama yang saya sebutkan diatas. Karya yang dihasilkan David, Pepeng, Emil, Jarwo dan Chandra (dimanapun ia berada sekarang)  memang tak pernah bosan untuk di dengarkan dalam era apapun, oleh siapapun oleh kalangan manapun. Bahkan, jika anda adalah penikmat musik hingar bingar yang keras dan menyayat telinga. Anda juga masih bisa membuka celah untuk mulai menyukai David dan kolega.

Albumi ini cukup unik, semua artis yang berpartisipasi memberikan warna musiknya masing-masing. Mulai dari Pop, Rock, Electronic, Rock and Roll bahkan hingga Swing/Jazz sekalipun. Semua artis yang tampil seakan menjadi headline di album ini. Mereka bermain dengan sangat lepas tanpa menghilangkan esensi dari lagu lama Naif itu sendiri.

Saya cukup menyayangkan, mengapa lagu Possesif, Towal-Towel, Yts: Ibu, Uang, Johan dan Enny tak masuk kedalam kompilasi ini. Padahal lagu tersebut cukup membuat saya tersenyum sungging. Semoga saja akan ada tribute kedua untuk Naif dan para artis yang berkontribusi membawakan lagu-yang saya sebutkan tadi, semoga hal tersebut bisa terealisasi.

Tujuh tahun telah berlalu semenjak dirilisnya kompilasi bersejarah ini. Hingga hari ini, saya masih mendengarkan album ini secara penuh dengan tape tua saya yang sudah tak bisa diharapkan lagi kejernihan suaranya. Saya beruntung bisa memilikinya dan menjadi bagian dari sejarah perjalanan Naif. Naif sendiri juga masih memproduksi album studio hingga hari ini. Namun kini mereka lebih mengusung tema percintaan. Sebuah tema yang jarang diangkat Naif dalam karya-karyanya. Sudahlah, saya tak ingin membicarakan album terkini dari Naif.

Oh iya, mungkin saja tiga tahun lagi, album ini akan dirilis ulang dalam format Vynil. Bisa saja hal itu terjadi. mengingat kini budaya vynil tengah marak di kalangan sidesterm. Toh album ini memang layak untuk dikoleksi dalam format itu. Jika memang jadi dirilis dalam format vynil. Saya tentu tak bisa membelinya karena keterbatasan sumber daya keuangan sebagai mahasiswa tingkat akhir yang memprioritaskan membeli tinta printer dan kertas HVS demi selesainya tugas akhir.

Jelang City v Liverpool di Guinnes Cup: Misi balas dendam the Reds


Poster Match City v Liverpool


Esok pagi akan ada match yang bertemakan balas dendam, Liverpool akan menjamu Manchester City dalam lanjutan tur pra musim di ajang Guiness International Cup. Seperti yang kita tahu, Liverpool gagal menjadi juara liga Ingrris musim 2013/14 karena inkonsistensi menjelang akhir musim. Mereka kerap membuang-buang point saat menjamu Palace dan Chelsea. Bahkan pada match melawan Chelsea, Sang ikon Steven Gerrard malah memberikan assist kepada Demba Ba untuk kemudian membuat gol secara mudah ke gawang Simon Mignolet. Sloan #MakeUsDream yang dikampanyekan fans the Reds di seluruh dunia akan juaranya Liverpool harus dikubur dalam dalam.


Assist Steve G kepada Demba Ba


City paham betul kesempatan tak datang setiap saat. Saat Liverpool tampil seperti yoyo, skuad Pellegrini tampil menggila dengan memenangi setiap laga sisa di Liga. Alhasil, gelar juara liga tetap berada di kota Manchester, namun kali ini berada di sisi biru. Karena Manchester merah sendiri sedang mencoba menjadi tim medioker. Mereka mungkin bosan dengan status salah satu tim terbaik di dunia. David Moyes patut diacungi jempol atas keberhasilannya membawa Everton berada di atas Man United, itulah mimpi sang Gaffer sejak lama.

Kembali lagi ke persoalan jelang laga Liverpool kontra City. Sekalipun ini laga eksebisi, pasukan Brendan Rodgers tentu akan berusaha membalaskan dendam atas Manchester City. Kemenangan menjadi harga mati untuk Steven Gerrard dan kolega. The Anfield Gank sendiri sudah mempersiapkan diri dengan beberapa amunisi baru semacam Loovren, Lallana, Markovic dan Emre Can, kehilangan Luis Suarez bukanlah soal, Liverpool tetap tim yang patut untuk diwaspadai.

Sementara City sendiri tengah dalam kepercayaan diri tinggI. the Sky Blues berhasil melumat Ac Milan dengan skor cukup fantastis 5-1. Pellegrini sendiri cukup puas dengan performa timnya selama pramusim, suka atau tidak, City yang sekarang lebih menakutkan dari City musim lalu. Apalagi Stefan Jovetic dan Scott Sinclair tengah membuktikan keduanya pantas mendapatkan tempat di skuad utama. Musim lalu keduanya gagal mendapat menit bermain yang cukup di City. Jovetic sibuk berkutat pada cideranya sementara Sinclair harus menepi ke WBA demi jaminan bermain reguler.

Tensi pertandingan akan berjalan denga sengit. Selain aroma balas dendam yang diusung the Reds kepada City, isu pembajakan pemainpun menjadi bumbu lain dalam pertandingan nanti. Liverpool dikabarkan tengah meminati dua pemain City, Micah Richards dan James Milner. Khusus untuk Richards, B-Rod sendiri memang menginginkan Richards untuk berlabih ke Anfield. Rodgers mungkin ingin mengumpulkan lagi petarung-petarung tangguh di lini belakangnya. Kehadiran Skrtel dan Agger dinilai masih kurang membuat pertahanan Liverpool bak kumpulan bodyguard sebuah klub malam, Richards dinilai sebagai orang yang tepat untuk mengisi lini belakang tim yang sempat menjadi buah bibir di era 80an itu.

Suka atau tidak, Match City melawan Liverpool akan menjadi ajang terpanas dalam gelaran Guiness Cup kali ini. Liverpool sudah barang pasti akan memberikan City tamparan keras karena telah berani merengut gelar liga Inggris yang mereka dambakan dalam kurun 20 tahun terakhir. Sementara City sendiri akan membuktikan bahwa mereka jelas lebih baik daripada pengangguran-pengangguran di Merseyside.

Jumat, 25 Juli 2014

Sedikit tentang Pablo Zabaleta

The Fuckin Man
 
 
Ia hanya didatangkan dari Espanyol, tim Catalan yang selalu berada di bawah telapak kaki Barcelona. Harganya hanya sekitar 7 juta Euro, harga yang sangat kecil untuk standar pemain yang bergabung di skuad mahal the Eastlands. Namun seiring berjalanya waktu, ia berhasil membuktikan bahwa harga murah tak selalu menjadi alasan untuk bermain standar. Ia berhasil membuat Verdran Corluka angkat kaki dari Carrington dan membuat si anak asli akademi, Micah Richards harus bersandar melepas penat di bangku cadangan (walaupun sebenarnya Richards sendiri sering mengalami cidera kambuhan). Ia adalah salah satu pembelian berhasil dari Mark “fuckin” Hughes, pelatih yang terkenal sering menghambur-hamburkan uang saat menahkodai the Sky Blues.
Ia menjadi andalan fullback sisi kanan Manchester City di era kepemimpinan Hughes, Roberto Mancini, hingga Pellegrini. Inkomsistennya Micah Richards membuatnya menjadi prioritas pelatih-pelatih City yang saya sebutkan diatas untuk memasangnya sebagai Fullback penghalau serangan lawan. Kecepatannya mungkin tak sebanding dengan Dani Alves. Permainannya mungkin tak seindah Alvaro Arbeloa. Visi permainannya tak secanggih si legendaris Garry Neville. Namun, Zabaleta memiliki determinasi tinggi yang mungkin tak dimiliki ketiga orang yang saya sebut diatas.
Untuk seorang yang lahir di Argentina, sosoknya menjadi sebuah ambiguitas tersendiri. Kita semua tahu bahwa pemain asal negeri Diego Maradonna itu selalu tampil santun dan menawan kala bermain. Lihat saja sosok macam Javier Zanneti, Juan Riquelme, hingga Lionel Messi, semuanya adalah tipikal pemain Argentina “yang baik.” Sosok Zabaleta mungkin cenderung mengarah pada legenda Tanggo yang undetect macam Juan Pablo Sorin ataupun Diego Simeone yang kerap bermain brutal dan membuat lawan segan untuk mencari masalah dengan merek. Zabaleta sendiri lebih kepada steriotip orang Inggris yang cenderung brutal dan temperamental, tak jarang kita selalu melihat Zaba terkena kartu kuning di setiap pertandingan Manchester City. Itulah kelebihan Zabaleta daripada fullback sepakbola modern saat ini.
Pada Piala Dunia 2014 kemarin, Alejandro Sabella membuat sebuah kesalahan. Ia meminimalisir pergerakan offensive Zaba ke kotak pinalti lawan. Sabella lebih percaya kepada sosok Angel di Maria sebagai konduktor serangan Argentina dari zona sayap. Zabaleta tak bermain maksimal di Piala Dunia. Mungkin inilah salah satu penyebab terjungkalnya Argentina di Final (selain faktor Messi-sentrisme, tentunya).
Dan jendela transfer musim dingin dibuka. City telah memastikan kehadiran Bacary Sagna ke Etihad. Pola permainan Sagna dan Zaba sekilas mirip. Mereka juga menempati posisi yang sama. Keduanya sering melakukan overlap ke daerah pertahanan lawan. Namun saya tak pernah khawatir soal posisi Zaba. Ia mungkin akan terus menjaga sisi kanan City di musim 2014/15. Hanya cidera, akumulasi dan tuhan yang bisa menghentikan Zabaleta. Saya juga berani menjamin, Zaba akan pensiun bersama City dikemudian hari. Bahkan saya beharap, ialah kapten yang ideal untuk Manchester City. Ia mungkin hanya kalah populer dari Vincent Kompany dan Yaya Toure dalam hal pemilihan kapten.