30
& 31 Maret 2016
Teater
Kecil
Taman
Ismail Marzuki
Jakarta
 |
Foto oleh: Yose Riandy |
Repetoar
Pasca
mengenal Silampukau pertengahan Februari lalu, rasa cinta muncul begitu saja.
Cinta memang tak mengenal alasan apapun. Sejak saat itu, hampir setiap hari saya
selalu mendengarkan album “Dosa, Kota dan Kenangan” milik duo kota Pahlawan ini
melalui perangkat mp3 hasil unduhan gelap. Cita rasa musik folk yang dibalut
dengan lirik bedasarkan perspektif personal tentang kehidupan kota Surabaya
menjadi bumbu yang cukup sedap untuk diperdengarkan. Sebenarnya, apa yang
disampaikan Silampukau tentang balada perkotaan bukan hal baru, Bangkutaman
pernah menyampaikan hal mengenai yang sama mengenai kehidupan Jakarta pada
album Ode Buat Kota beberapa tahun lalu. Yang membedakan dua moniker tersebut
hanyalah pemilihan tema dan tempat, kehidupan di Jakarta dan Surabaya.
Mengunduh
mp3, apalagi yang diunduh adalah musisi independen adalah dosa besar.
Sebenarnya saya ingin memiliki cakram padat Silampukau. Namun apa daya, uang
saku terlanjur habis untuk kepentingan kuliah dan melamar pekerjaan. Menurut
seorang teman, mengapresiasi musik tidak melulu harus membeli rilisannya. Ada
banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghargai apa yang dihasilkan. Untuk
itu, satu-satunya cara agar menebus dosa saya adalah menonton pertunjukan live
mereka. Semoga dosa ini terampuni, Gusti.
Kebetulan,
pertengahan Maret lalu, Silampukau akan singgah di Jakarta. Mereka akan mentas
di Music Gallery seri keenam. Namun harga tiket membuat saya ciut. Hal ini
karena ada dua band luar, Panama dan Last Dinosaur tampil disana. Namun setelah
mencari tahu seluk beluk kedua band tersebut, saya membatalkan menonton. Ketidaktahuan
musik yang disuguhkan oleh para penampil serta tidak selera terhadap musik dua
grup musik asing tersebut menjadi alasan sahih. Adalah bunuh diri yang tak
artistik jika saya memaksakan hadir demi alasan eksistensi hadir di skena
independen.
Kabar
baik kembali tiba, Eki dan Kharis kembali akan hadir di Jakarta di penghujung
Maret. Akhir bulan adalah hal terindah bagi siapapun, termasuk saya. Isi dompet
lak lagi harus nelangsa. Berhubung waktunya tepat, saya mengajak dua orang
teman untuk menonton pertunjukan musik Silampukau. Duo kepondang ini singgah
kembali ke Ibukota dengan konser tunggal, “Bermain di Cikini.” Tiket dibandrol
dengan harga seratus ribu per orang untuk satu hari pertunjukan.
“Anjir mahal juga yak tiketnya, itu (pas nonton) dapet
apaan aja?” Tutur seorang teman kepada saya. Pertanyaan ini membuat saya
harus garuk-garuk kepala untuk menjawabnya. Pasalnya beberapa waktu lalu, ia
hadir ke peluncuran album band Rock and Roll asal Jakarta dengan tiket “hanya” setengah
harga dari harga yang ditetapkan penyelenggara “Silampukau - Bermain di Cikini.”
Ia mendapatkan satu keping kaset tape beserta bir dingin. Hal ini tentu saja
menjadi standar acuan menonton musik baginya. Jika seratus ribu tak mendapat
apa-apa, ia tentu akan kecewa berat. Namun saya berhasil meyakinkannya untuk
datang menonton.
Harga
tiket seratus ribu untuk pertunjukan musik folk lokal adalah sebuah
keniscayaan. Folk, sebagaimana digariskan adalah musik yang ditunjukan kepada
kaum kelas menengah kebawah. Musik ini awalnya adalah komposisi yang diciptakan
untuk mengusir kebosanan saat berutinitas. Namun pasca Stivell dan Dylan, semua
berubah. Folk menemukan sisi komerisilnya melalui lirik perlawanan, protes dan
aspek sosial sebagai nilai jual utamanya. Selain itu beberapa faktor yang
menyebabkan harga tiket menjadi cukup “wah” bagi kalangan marjinal seperti saya
adalah para hipster dan mahalnya sewa gedung di Jakarta.
Hipster, sebagaimana digambarkan secara umum
adalah orang yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kebanyakan orang, atau
lebih gampangnya disebut anti-mainsterm.
Ya, Silampukau sendiri merupakan moniker yang bisa dibilang berbeda. Jika
kebanyakan kelompok folk lokal masa kini memilih tema tentang hujan, sore hari,
dan hangatnya senja. Mereka membawakan hal yang agak berbeda, yakni tentang
kehidupan sosial di kota metropolitan. Selain itu, profil mereka juga terbilang
lumayan tinggi. Rolling Stone Indonesia meletakan “Dosa, Kota dan Kenangan” di posisi ketiga sebagai album Indonesia terbaik
di tahun 2015, tepat dibawah “Teriakan Bocah” milik Kelompok Penerbang Roket
(KPR) dan “Taifun” Barasuara. Maka, jika menonton pertunjukan Barasuara/KPR
terlalu mainsterm, Silampukau adalah
anti-tesis dari kedua band tersebut. Karena hipster sendiri merasa cenderung
bersifat underdog. Ha.
Atas
dasar underdog dan kepopuleran duo asal Surabaya ini (mungkin, sekali lagi,
mungkin) membuat penyelanggara melaksanakan “Silampukau - Konser di Cikini”
selama dua hari. Terlebih lagi, seluruh tiket yang berjumlah sekitar 400 lembar
yang dipersiapkan untuk pertunjukan dua hari tersebut sold out. Hal ini merupakan pencapaian yang cukup spektakuler untuk
sebuah konser tunggal musisi sidesterm
yang tengah menanjak namanya.
Selain
itu faktor hipster, mahalnya pertunjukan Silampukau bisa jadi didasari
pemilihan venue acara. Sudah bukan
rahasia umum jika mencari tempat pertunjukan musik yang memupuni di Jakarta
merupakan barang langka. Jikapun ada, harga yang ditawarkan bisa dibilang
lumayan. Seorang teman pernah berujar kepada saya, salah satu klien di
kantornya kesulitan untuk mencari venue
untuk menggelar sebuah event di Jakarta. Untuk mengakomodir kelancaran
pertunjukan, sebuah gedung teater kelas premium di Cikini menjadi gelaran
perdana Eki, Kharis dan kawan-kawan untuk konser tunggal perdananya di Jakarta.
Hal ini juga bisa dijadikan alasan mengapa harga tiket duo kepondang ini
menjadi cukup lumayan bagi pengangguran seperti saya. Ya sudahlah. Setidaknya
portofolio menonton gelaran musik di tempat bagus saya bertambah ke arah yang
lebih baik.
***
Saya
bersama dua orang teman memilih untuk menonton di hari kedua. Tak ada alasan
khusus untuk itu. Menuliskan permainan Silampukau di atas panggung adalah
buang-buang waktu. Mereka tampil tanpa saat mengeksekusi setiap materi yang
dibawakan. Saya hanya ingin membahas bagaimana keadaaan konser di lokasi.
Teater
Kecil dipenuhi oleh riuh rendah manusia. Bisa dikatakan yang hadir disana
merupakan golongan kelas menengah ke atas. Hampir semua orang nampak modis
dengan busana semi premium. Mungkin hanya saya dan kedua teman yang kurang enak
dipandang. Dari sisi manapun, kami kalah telak. Cara berpakaian, good looking, bau badan, segalanya.
Untung saja harga tiket setara satu dengan yang lainnya. Jika tidak, bisa
dipastikan kami selesai.
Keterlambatan
seorang teman juga memaksa kami untuk duduk di balkon. Leher terasa sakit jika
terus melihat pertunjukan yang letaknya di bawah. Penderitaan belum berakhir
disitu, beberapa perempuan di kursi belakang memutuskan pindah ke depan untuk
melihat lebih jelas penampilan di bawah. Dengan angkuhnya mereka menghalangi
pandangan saya dan rekan-rekan. Wajah dan tubuh mereka menghalangi surga yang
di depan mata. “(Bayar) cepe cuma buat
liat komuk orang doang nih? Mana kaga dapet ape-ape !!!.” Gerutu
seorang teman.
Setelah
beberapa lagu, Silampukau memutuskan untuk memberi jeda. Para penonton berhamburan
keluar Teater. Sesi merokok dan minum digelar tanpa dikomando. Si penghalang
kami tadi juga melakukan hal yang sama. Saya dan seorag teman duduk di
pelataran. Kami berbincang singkat sambil menghembuskan rokok, “Folk main di
tempat kayak gini aneh ye.” Tuturnya kepada saya. Obrolan berlanjut dengan
santainya. Seorang wanita di sebalah saya bicara kepada temannya, “Dari tadi gua ngga ngerti mereka (Silampukau) main
apaan.”